WATERFLO

infopaytren.com

Halaman

Kamis, 11 April 2013

Pemilihan Masalah Penelitian

Menentukan masalah penelitian merupakan awal sebelum melakukan pengembangan terhadap desain penelitian. Sesuatu yang dipaparkan dalam desain penelitian diantaranya apa, mengapa, serta bagaimana masalah tersebut harus diteliti sebagai suatu pedoman ketika melakukan proses penelitian dan diharapkan dari hasil penelitian tersebut akan bermanfaat bagi semua pihak yang ikut terlibat di dalam proses penelitian.

Kegagalan utama dalam penelitian biasanya dikarenakan adanya kelemahan dalam memilih dan mengonseptualisasikan suatu topik penelitian. Ini adalah salah satu masalah yang sering dihadapi dan dirasa paling sulit oleh para peneliti. Namun, setelah masalah tersebut dapat terpecahkan oleh peneliti, maka proses berikutnya akan lebih mudah untuk dikerjakan. Ini adalah pembatasan topic atau pemusatan pendekatan terhadap topic supaya bisa dipahami secara efektif.

Seorang peneliti Bruce A. Vhadwidck mengatakan bahwa, di dalam perumusan masalah terdapat tiga hal penting, diantaranya menciptakan suatu pertanyaan (sesuatu apa yang ingin diketahui), rasional (kenapa ingin mengetahuinya), dan perumusan pada pertanyaan (arah pertanyaan sendiri mengarah pada suatu jawaban yang rasional).

Selain beberapa masalah di atas, ada beberapa kriteria masalah lain yang perlu diketahui, misalnya topik dan masalah yang menarik, adanya signifikansi antara teoritis dengan praktis, bisa diuji dengan metode pengumpulan data dan analisis data, da nada kesesuaian antara biaya dan waktu. Perumusan masalah harus dibuat dengan lugas, jelas, tidak ambiguitas, dan menggambarkan adanya hubungan antara dua variabel atau lebih. Rumusan masalah dapat dibuat lebih dari satu, tentunya harus disesuaikan dengan tujuan yang terdapat pada penelitian.

Perumusan judul dapat dilakukan di dalam perumusan masalah. Walaupun di dalam judul sudah dituangkan suatu permasalahan, namun penafsiran pembaca dapat berbeda dengan yang dimaksudkan oleh peneliti. Masalah-masalah yang timbul dalam penelitian dituangkan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan. Jenis pertanyaan juga harus fleskibel (memungkinkan dilakukan penelitian), bisa diukur dari beberapa pertimbangan aspek, seperti waktu, tenaga, serta biaya. Jenis pertanyaan yang diajukan harus jelas, ini untuk memudahkan pembaca dalam memahamai apa yang akan diteliti. Pertanyaan adalah sesuatu yang harus dijawab dan terikat dengan etika.

Sebagai contoh permasalahan prestasi belajar siswa, pada rumusan masalah harus jelas tidak boleh ambigu. Hal lain yang penting adalah penelitian harus terjangkau dan dapat dilaksanakan baik dari ukuran waktu dan biaya. Jika peneliti salah dalam merumuskan masalah maka akan berakibat fatal dalam pemecahan masalah tersebut. Intinya adalah peneliti harus berhati-hati ketika membuat pertanyaan karena salah satu kerangka dasar penelitian adalah rumusan masalah. Yang perlu diperhatikan lagi adalah referensi yang tidak signifakan dan tidak sesuai dengan asumsi.

Rabu, 10 April 2013

Pengertian Anak Usia Dini

Siapa saja yang disebut anak usia dini? Ada banyak pendapat yang menjelaskan hal tersebut. Diantaranya pendapat dari National Association for The Education of Young Children (NAEYC), yang menjelaskan bahwa kategori anak usia dini adalah mereka yang usianya antara 0-8 tahun. Jenjang pendidikan anak tersebut biasanya masih berada pada tahap program pendidikan anak di tempat penitipan anak, pendidikan pra sekolah, dan TK atau SD.

Sedangkan menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Pasal 1 ayat 14 menjelaskan bahwa, tujuan dari pendidikan usia dini adalah upaya pembinaan sejak anak lahir hingga usianya mencapai 6 tahun dan dilakukan dengan memberikan rangsangan pendidikan, ini sangat membantu perkembangan dan pertumbuhan jasmani dan rohani anak supaya mempunyai kesiapan untuk memasuki pendidikan lebih lanjut.

Sedangkan UNESCO yang telah mendapat persetujuan dari Negara-negara anggotanya mengkalsifikasikan jenjang pendidikan menjadi 7 jenjang dan disebut sebagai International Standard Classification of Education (ISDEC). Pendidikan anak usia dini dalam jenjang yang ditetapkan UNESCO berada pada level 0 atau setara dengan jenjang pra sekolah untuk anak usia antara 3-5 tahun.

Menurut UNESCO, dalam beberapa Negara implementasi pendidikan anak usia dini tidak selalu sama dengan jenjang usianya. Beberapa Negara ada yang melaksanakan pendidikan usia dini lebih awal yakni ketika usia anak mencapai 2 tahun dan mengakhirinya di usia 6 tahun. Bahkan di beberapa Negara ada yang memasukan pendidikan dasar sebagai pendidikan anak usia dini. Fokus pembahasan ini adalah anak usia dini yang usianya di bawah atau kurang dari 4 tahun saja.

Perlu Anda pahami bahwa anak usia dini mempunyai ciri yang sangat khas, ciri ini tentu saja berbeda dengan fase anak pada usia lainnya. Berikut beberapa karakteristik anak usia dini:

1. Memiliki rasa keingintahuan yang besar

2. Pribadi yang unik

3. Suka berimajinasi dan berfantasi

4. Masa yang sangat potensial untuk belajar

5. Memilki sikap egosentris

6. Daya konsentrasi yang rendah

7. Bagian dari makhluk sosial

Sabtu, 06 April 2013

Emansipasi Wanita dalam Hal Bekerja di dalam Islam


Bismillah, Alhamdulillah, Sholawat dan Salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shollahu alaihi wassalam, para sahabatnya, para tabi’in, dan kepada yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du..
Pada kesempatan ini kami akan memposting artikel Emansipasi Wanita dalam Hal Bekerja di dalam Islam, semoga bisa menambah wawasan mengenai agama islam.

Saudaraku yang dirahmati Alloh Azza wa Jalla, Rosululloh bersabda, “sebaik-baik permainan bagi wanita adakah tenunan.” (Anas, diriwayatkan oleh Dailimi

Aisyah Rodhiyallohu ‘anha berkata, “suara pintalan tenun wanita dapat mengimbangi takbir di jalan Alloh. Dan wanita yang memberikan pakaian kepada suaminya dari hasil tenunannya, maka dari setiap lubang ia akan mendapat 100 derajat ketinggian. “Umar bin Khoto\tob Rodiallohu ‘anhu berkata, “sebaik-baik kebiasaan bagi wanita ialah menenun.” (Natsar Al-Dur : II/29)

Ustadzah Aminah As-Sa’di di dalam ulasannya menulis bahwa untuk mempertahankan hidupnya manusia dihadapkan perjuangan mencari rezeki. Ada yang bekerja untuk memnuhi kekurangan suami, ada yang belum bersuami tetapi orang tua sudah tidak mampu. Namun banyak wanita yang terjebak dalam pekerjaannya. Kadang-kadang terbentur harus melanggar norma-norma wanita muslimah. Bahkan tidak sedikit kaum wanita yang meniru-niru pekerjaan laki-laki, atau mungkin bisa lebih, yang jauh dari nilai agama.

Dr. Anwar Jundi menambahkan bahwa islam tidak menghendaki seorang wanita keluar dari rumahnya hanya sekedar untuk beraktifitas yang tidak sesuai dengan kudratnya , baik itu dengan dalih kemaslahatan masyarakat maupun hanya sekedar untuk keperluan pribadinya. Wanita diperbolehkan keluar bekerja ketika tidak ada yang menanggung keperluan untuk diri dan keluarganya sehari-hari dengan ketentuan bahwa pekerjaan itu sesuai dengan kodrat kewanitaanya.

Sebagai alasan atas hal ini, maka syaikh Ibnu Sulaiman mengatakan dan sangat emosional, dan mudah terpengaruh oleh angan-angan dan bujukan, mudah tunduk oleh cobaan budaya modern , dan hiasan kehidupan dunia yang menipu. Wanita mudah sekali berpaling dari kebenaran, terpengaruh oleh lingkungan, terbawa arus hawa nafsu tanpa pengendalian agama, dan dhamir (tanpa pertimbangan akal atau melihat akibatnya). Tidak semua pekerjaan sesuai dengan wanita, dan tidak semua pekerjaan pula sesuai dengan laki-laki. Masing-masing memiliki pekerjaan yang sesuai dengan kudratnya (fitrahnya masing-masing).

Anjuran menjahit pada hadits di atas hanya sekedar contoh dari beberapa pekerjaan yang sesuai dengan kudrat wanita. Dengan menjahit banyak hikmah yang terkandung di dalamnya, antara lain menjahit dapat dilakukan di dalam rumah, sehingga akan terhindar dari hal yang tidak disenangi agama, juga dengan menjahit wanita juga bisa melakukannnya dengan banyak berdzikir atau membaca hafalan Al Qur’an.

Mengeluarkan wanita dari rumah dan menyibukkannya, memang adalah suatu program yang sengaja disusun oleh musuh islam, sebagaimana yang dikemukakan oleh syaikh Muhammad bin Abdullah dalam bukunya menulis, “orang-orang barat menggunakan kondisi wanita muslim sebagai senjata untuk melukai islam, lalu mencelanya sebagai agama yang tidak efektif bagi kehidupan dan tidak memberikan keadilan yang layak bagi wanita. Mereka sibuk menggugah wanita muslimah untuk memberontak Islam. Mereka menuduh, bahwa islam merendahkan martabat wanita, melecehkan sebagai propagandanya, mereka menggunakan sarana-sarana informasi media masa. Mereka melepaskan semboyan kebebasan dan emansipasi wanita. Padahal sebenarnya hendak menipu kaum wanita. Agar menuntut hak-haknya, menyeru agar memberikan kebebasan, meninggalkan hal-hal yang berbau kuno dan mengekor hal-hal modern, walhasil munculah emansipasi wanita.
Dalam ‘Huququl Mar’ah’ disebutkan bahwa sebenarnya lebih banyak mudharat yang akan terjadi apabila wanita bekerja di luar rumah dibandingkan dengan manfaatnya, antara lain ialah  :
  • Sering terjadi kemungkaran, seperti : bercampur dengan lelaki, berkenalan, mengobrol, bertemu muka dengan yang diharamkan, memakai minyak wangi, memperlihatkan aurot kepada selain mahramnya sehingga menyeret kepada perzinahan.
  • Tidak bisa melaksanakan kewajiban kepada suami dengan baikMeremehkan urusan rumah tangga yang seharusnya menjadi bidang wanita
  • Mengurangi hak-hak anak dalam banyak hal  :   dalam kasih sayang, perhatian, pendidikan dan lain sebagainya.
  • Membuat cepat lelah dan penat fisik sehingga mempengaruhi jiwa serta syaraf yang tidak sesuai dengan tabi’at wanita
  • Mengurangi makna hakiki mengenai kepemimpinan suami dalam rumah tangga di hati wanita.

Di samping itu jika hasrat telah tertuju kepada pekerjaan, maka pikiran dan perasaannya menjadi sibuk, lupa dan bertambah jauh dari tugas-tugas yang alami, yaitu keharusan membina kehidupan suami-istri, mendidik anak, dan mengatur segala urusan rumah tangga. Padahal tabi’at dan kepribadian wanita memiliki kekhususan tersendiri. Nabi Shollahu ‘alaihi wassalam bersabda, “wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (Bukhari)

Memang ini adalah suatu rencana dari mereka, seperti dikatakan oleh ustadz Al-Hamid, agar bangsa yang dijajah tersebut menyadari kewajiban, sehingga keluar dari cara hidup islam sedikit demi sedikit.

Dr. Abdullah Nasih Ulwan menambahkan bahwa wanita bekerja diluar rumah tidak lain adalah termasuk misi-misi dari non islam yang hendak menghancurkan kaum muslimin dan muslimat dengan memberikan contoh-contoh kebebasan, persamaan dan lain sebagainya. Mengikuti perilaku-perilaku non muslim adalah larangan keras bagi kaum muslimin dan msulimat. Rosululloh Sholllohu ‘alahi wassalam bersabda, “ Bukan dari golongan kami orang yang menyerupai selain kami. Jangan kalian menyerupai Yahudi dan Nasrani.” (Tirmidzi)
Beliau juga bersabda. “barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan kaum tersebut.” (Ahmad, Abu Dawud)

Oleh sebab itu kapada para wanita islam yang belum puas dengan islam, dan terus menuntut kebebasan dan persamaan hak atas nama hak emansipasi. Katakanlah  :   “Tuntutlah terus wahai wanita, agar kamu berkumis dan berjanggut.” Ustadzah Aminah As-Sa’id mengatakan, “tanamkanlah perasaan bahwa wanita itu tetap wanita dan jangan lupakan kerajaan kecilnya, yaitu rumah. Karena disitulah letak fitrah bagi dirinya.” Dibolehkan  bagi kaum wanita bekerja tetapi dengan syarat yang harus dipenuhi  :
  • Ada izin dari wali, baik dari suami atau orang tua
  • Pekerjaan halal, bukan haram, ataupun syuabhat
  • Tidak ada ikhtilat atau percampuran bebas antara laki-laki dan wanita 
  • Tidak tabaruj dan  tidak boleh menampakkan perhiasan
  • Tidak memaklai pakaian yang ketat atau melanggar aturan berpakaian bagi wanita dalam islam
  • Ada hijab antara laki-laki dan wanita
  • Jenis pekerjaan tidak melanggar kewajiban-kewajiban yang lain, seperti kewajiban terhadap suami, anak-anak dan urusan rumah tangganya.

Ali Rodiallohu ‘anhu pernah bertanya kapada Fatimah Radiallohu ‘anha putri Nabi Shollahu ‘alaihi wasslam, “Wahai Fatimah, apakah yang baik bagi seorang wanita ?” Fatimah Radiallohu ‘anhua menjawab, “Hendaknya ia tidak melihat lelaki (ajnabi/yang bukan mahram) dan lelaki (ajnabi) tidak melihatnya.”

Ada yang mengatakan bahwa wanita yang bekerja bisa mengenyahkan rasa bosan yang berkepanjangan karena dia harus terus-menerus terkurung di dalam tembok rumah.

Dikatakan kepada mereka bahwa tugas wanita adalah di rumah suaminya, menjaga hartanya, mengatur urusannya, menyadari kedudukannya sebagai istri dan ibu rumah tangga, dan tugasnya menjadikan rumahnya sebagai surga, itu sudah cukup untuk membunuh kekosongan hatinya.

Sumber  :  Fadhilah Wanita Sholehah (Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny) - "Emansipasi Wanita dalam Hal Bekerja di dalam Islam"